Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

berdua menuju senja

Mereka bukanlah pasangan romantis, tak pernah beradu tatap mesra atau mengumbar kata sayang. Bahasa cinta mereka tak kasat mata, namun benar adanya. Tuan dan Puan yang sadar jauh berbeda—yang semakin dicari persamaannya semakin tak ditemukan, namun mereka tetap mencoba menjahit celah itu agar terasa utuh. Jarak tak membuat mereka berjarak. Selisih keyakinan tak menggoyahkan tekad. Ombak telah mereka lalui, ujian datang silih berganti, waktu habis untuk meneguk cangkir masing-masing sambil menertawakan dunia. Hingga senja itu tiba, angkasa merah menjadi saksi. Tidak ada pesta, tidak ada kata manis. Hanya dua jiwa yang mengerti bahwa cinta tidak selalu soal menyatu, tapi tentang bertahan dalam perbedaan tanpa harus saling menyeret. Sebab pada akhirnya, cinta bukan milik siapa yang paling mirip, melainkan siapa yang paling berani tinggal—meski tahu suatu saat, senja akan tetap memisahkan.

Lovesick Bear : Novel Usang Yang Belum Bertemu Jodoh

Gambar
  Mau ngenalin sama Lovesick Bear, novel yang sudah lama tamat di wattpad tapi sampai sekarang belum ketemu jodoh penerbitnya. Maklumlah, anget-anget tai ayam carinya. Sempet kepikiran buat self publish tapi ya gitulah, masih terkendala banyak hal. Mulai belum tahu banyak soal penerbit yang kira-kira bisa buat ngelahirin ini anak pertama, biaya, sampai mikirnya emang ada yang minat ya sama novel buatan aku. Kayak blog ini juga nggak yakin, ga ada yang baca juga. Modal pengen aja semuanya. Tapi nggak papa, semua pasti ada hikmahnya. Kalau bukan sekarang, mungkin nanti kapan-kapan. Entah gimana dulu bisa betah nulis ini novel. Walau lama juga sih kayaknya dulu bisa tamat. Sempet naik turun juga mood nya buat nulis. Kalau nggak salah inget, dulu nulis ini pas awal-awal jadi pengangguran sampe dapet kerja juga sempet ngelanjutin ini novel. Inget banget dulu naik Trans Jakarta sambil ngetik ini di wattpad , udah banyak yang diketik ternyata nggak nge- save . Amsyong emang dulu. Ide a...

mantra untuk menerawang masa yang akan datang.

Hari yang ditunggu telah tiba, setelah penantian yang cukup lama. Sehabis pandemi yang menghalangi. Setelah telah kesempatan ketiga terlewati. Kini waktunya memilih (lagi). Kembali ke pelukan yang berulang kali mencampakan atau perpindah ke lain hati. Semua masih jadi dipertimbangkan. Semua masih bisa berubah. Semoga kali ini ia tak mengulangi kesalahannya, doaku. Namun tetap saja hatiku kembali meragu. Sejuta pertanyaan kembali menyeruak. Semakin banyak usia, semakin banyak pertimbangan. Timbangan usang kembali aku gunakan. Komparasi mulai mengalkulasi. Pilih Dia, tapi aku pernah tersakiti. Pilih Kamu, aku belum kenal betul. Dia dan Kamu sama-sama menjanjikan ketenangan tapi apakah yakin aku tak akan bosan di tengah jalan nanti? Usiaku sudah tak muda lagi, bukan waktunya untuk bermain hati. Bukan saatku untuk terus pindah berkala rumah ke rumah. Sudah banyak pelajaran yang aku ambil. Ini saatnya untuk mengamalkannya. Tapi masih banyak tapi yang menghalangi. Banyak berkas yang perlu di...