Postingan

bermimpi seharusnya ketika aku tertidur.

Beberapa hal tentang bodohnya diri ini baru aku sadari. Semua terpancing keluar dari sumur luka yang ternyata aku gali sendiri. Pelan namun aku konsisten melakukannya sehingga sekarang alat ukur yang aku punya sudah tak sanggup untuk memeriksanya. Sekian lama aku menekuninya sehingga kini aku semakin mahir untuk membuat luka di hatiku sendiri.  Hal itu juga membuktikan kalau tangga yang aku bangun ternyata tak membawaku keatas melainkan semakin menenggelamkanku ke angan yang abu-abu dan dipenuhi kabut. Selama ini aku terlalu sibuk menyuapi egoku, menyalurkan hobiku untuk menyangkal segala realita yang ada di depan mata, serta terlalu sering memupuk harapan palsu orang-orang sok tahu di sekitarku. Semua yang dulu aku lakukan tak berbuah apapun dan sekarang tersisa sesak dan sesal. Langkah kaki yang terlanjur jauh terasa sia-sia ketika dipaksa kembali ke titik awal. Keringat kering ini belum menerima upahnya. Semua yang dikorbankan telah selesai perjuangannya. Aku lupa seharusnya mat...

yang paling bersedih di hari minggu.

Tak terasa sudah hari Minggu lagi. Buat kamu mungkin ini hari yang ditunggu. Setelah enam hari digempur  deadline  dan rutinitas, akhirnya tiba saatnya untuk melepas penat dan lelah. Akhirnya punya kesempatan untuk bangun lebih siang dan bersantai. Banyak rasa yang datang hari ini. Sebal, lelah, sedih, marah, semua saling sikut ingin menjadi pemeran utama. Tak ada yang jadi juara. Saat mereka merangsek datang, hanya sepi yang muncul di kepala. Entah, seharusnya keramaian ini membuatku bahagia namun malah kebalikannya. Ramai ini hanya pura-pura, sementara namun menjadi akhir dari segalanya. Kepura-puraan ini membuatku semakin percaya kalau kebohongan yang akan menang. Semua yang dimulai dengan kebohongan pasti akan berakhir dengan kepura-puraan.  

utuh walau rapuh.

Gadis kecil yang bernama kejujuran itu meronta. Sekian lama ia dikurung, akhirnya kini ia bisa melihat langit. Tak ada lagi kegelapan. Tak ada lagi ruangan pegap. Sesak di dada ini ingin segera aku akhiri. Aku baru tersadar kalau diam dan memendamnya tak membuat aku lupa akan kejadian itu. Apa yang aku lakukan malah membuatnya semakin menggerogoti hatiku. Aku seperti menanam ingatan dan menantinya menjadi masa lalu yang semakin menghantui. Aku merawatnya, menyiangi dari rumput liar, menyiramnya dengan rutin, dan tak lupa memberinya pupuk terbaik. Kini aku menuai hasilnya. Ia telah menjelma menjadi ketakutan yang jelas sangat aku hindari selama ini. Aku masih sangat mengingatnya. Jelas. Semua terasa seperti baru kemarin terjadi. Dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Yoh 8:32   Siang itu rumah sepi, hanya ada aku dan budheku yang sudah lanjut. Ibuku pergi menginap beberapa hari keluar kota dan ketiga saudaraku belum pulang sekolah. Aku masih sekolah dasar dan entah kenapa aku sam...

merangkum sewarsa.

Gambar
Tak terasa tiga ratus enam puluh lima hari berlalu dan semesta kembali memberi tiga ratus enam puluh lima hari lainnya untuk aku yang tak terlalu memberi kontribusi untuknya. Rencana demi rencana yang lalu belum semuanya terlaksana, beberapa daftar panjang masih belum tercoret dan sebagian resolusi belum terealisasi.  Hari ini lembar pertama buku baru dimulai. Kegagalan yang sebelumnya menyerang belum bisa dihadang. Kecewa yang lalu belum sepenuhnya berlalu. Ruminasi kembali berkunjung di malam hari. Patah hati yang mendekap malah mempererat pelukannya.  Setelah melalui tangis, tawa, kegagalan, dan berulang kecewa kini banyak halaman kosong yang bisa saja akan sama dengan buku sebelumnya atau bisa jadi lebih buruk. Tapi sebelum pesimis, aku percaya bekal pengalaman dan pelajaran hidup kemarin cukup untuk membawaku dan bahagia melalui peperangan di tahun yang baru.

di tengah perayaan kegagalan.

Perihal masa depan siapa yang tahu. Selamat untuk engkau yang sedang dirayakan! Habiskan waktumu untuk berpesta, sebelum aku kembali  yang tertawa. Bahagiamu mengemis dariku. Ingatlah kalau aku tak akan lagi sembunyi darimu.  Selama ini aku menanti hari ini. H ari-hari terbebas dari rasa sakit, kecewa dan sedih. Hari dimana aku merasakan kebahagian yang abadi. Perjalananku baruku dimulai. Empat kali gagal dalam perang yang sama tak membuatku kapok. Aku seolah bangkit kembali dengan segala fitur yang paling baru dan canggih. Aku akan baik-baik saja.  Taktik yang aku pakai memang tak tangguh seperti milikmu tapi itu hasil usaha dan keringatku sendiri. Aku memperjuangkan semua bersama diriku saja. Orang hebat yang ada disekelilingku, aku tugasi untuk bertepuk tangan, meneriakan namaku, dan memelukku kalau aku menang apalagi kalah lagi seperti yang terjadi hari ini. Apa yang terjadi bukan salahku, kamu, semesta, apalagi Tuhan. Bisa jadi kemenangan di medan perang yang ini mem...

jangan ada dongeng pengerat lagi!

Tak tahu harus tertawa atau menangis. Tertawa karena semua kebaikan yang sudah lama dilakukan seakan sia-sia dan itu semua hanya kebodohan yang pernah dilakukan atau kenangis pilu karena kebodohan yang kamu lakukan bertahun ternyata berimbas padaku. Bagaimana tidak, mimpi yang kukira bisa jadi kenyataan hancur karena kebodohanmu. Iya kebaikanmu selama ini adalah kebodohan. Bodoh karena kamu baik kepada mereka. Pengerat tak tahu malu dan tak tahu diri. Sampai beranak cucu, dia mengemis. Rumahnya berkilau emas sedang yang iba dengannya hanya beralas tanah. Cukup mimpiku saja yang kamu kalahkan dengan kebaikan untuk mereka. Biar mereka bahagia dengan harta pemberian sedang aku bahagia dengan tangis perjuangan. Sekarang pintaku sederhana. Duduk diamlah disana, kursi nyaman yang aku bangun dengan sisa kebaikanmu itu, nikmati hari tuamu dengan baik, sehatlah terus sampai aku bisa membalas sedikit kebaikanmu ini dengan segalanya yang kamu ingin. Cukup jangan dongengi aku lagi kisah pengerat y...

semesta yang enggan mengiba.

Gambar
Pergumulan, kepahitan, kecewa, putus asa, dan kesedihan merongrong kalbu ini. Entah mengapa, pikiran-pikiran itu sekelebat datang tanpa pertanda, merangsek hingga tembus ke dada yang berjubel dengan rasa sesal dan membaur menjadi satu dengan kebencian. Tubuhku terbaring di atas ranjang kamar, namun jiwaku berpetualang entah kemana. Ia pergi membawa serta kegelapannya, berkelana mencari kenyamanan.  Tanpa ekspresi aku menatap langit-langit kamar. Sesekali aku mengedipkan mata, membasahi permukaan kornea yang kering karena cahaya lampu. Hening. Tak ada satupun suara yang terdengar. Perlahan cairan transparan meleleh beranak sungai. Bibirku terkatup tak sanggup berbincang. Suara-suara berisik di kepala mulai berteriak dan berkecamuk. Mereka menyatakan kehendaknya bersamaan. Tak sanggup lagi aku melerai mereka. Tak terasa sudah berhari-hari aku melakukan ritual itu. Ritual yang membuatku lebih damai walau tanpa beraktivitas apapun. Lapar, dahaga, kantuk, silih berganti mendatangi namun...