berhenti memaksa mengerti.
Rencana Tuhan itu kadang rasanya kayak bercanda yang terlalu niat, terlalu detail, dan sama sekali nggak minta persetujuan. Di awal aku dibuat bingung, diputar ke sana kemari, disuruh jalan tanpa peta tapi ditanya kenapa capek. Aku sempat mikir, ngapain aku kuliah sampai Surabaya kalau ujungnya kerja di Jakarta? Bukannya bisa lurus aja? Tapi hidup jelas nggak kenal kata efisien. Setelah lulus dari Surabaya, aku keterima kerja di Jakarta, lalu entah kenapa harus nyasar lagi ke Purwakarta lingkungan yang sebagian besar orangnya Jawa Timur, dengan bahasa yang kasar, volume suara tinggi, dan tekanan yang jauh lebih ngegas dari Jawa Tengah. Harusnya kaget, harusnya tersinggung, harusnya ngerasa asing. Tapi kenyataannya aku fine-fine aja. Karena rupanya aku sudah dilatih dulu. Lalu muncul pertanyaan berikutnya yang sama nyebelinnya. Ngapain aku lama kerja di Jakarta dan sekitarnya kalau akhirnya aku harus balik ke rumah dan dapat pekerjaan tetap di sini? Ngapain ribet, ngapain muter, ngapain...