Kamis, 24 Juli 2025 0 comments

3428 Mdpl : jalur cantik tapi luka.

Lama sudah tidak gandeng tracking pole, akhirnya long weekend terakhir di tahun ini jalan juga ke Tegal. Berbekal keyakinan penuh kami bertiga yang terpencar berangkat dari tempt kami masing-masing dengan tentunya drama yang penuh emosi. Dari aku yang hampir cancel di hari H karena ada latihan padus yang sebenarnya di haruskan untuk anak baru ini. Tapi dengan keberanian dan keyakinan penuh, nekat meninggalkan tugas negara demi Atap Jateng yang harapannya bisa di daki sampai puncak Soerono.

Perjalanan ke Tegal memakan waktu 3 jam dari Semarang. Perut cukup lapar karena terakhir makan siang tadi dan menjelang sore sudah harus berkejaran dengan jam keberangkatan sampai beli air mineral saja tidak ada waktu. Berlarian masuk ke Stasiun Poncol untung saja sudah ada teknologi face regconize yang sangat mempercepat proses check in. Tak lama kereta berangkat, kaki langsung melangkah ke gerbong makan. Semangkuk cuangki dan sebotol air mineral langsung membanjiri lambung yang kosong. Tak lama, aku langsung duduk kembali ke tempat dan beristirahat.

Sampai di Stasiun Tegal, aku sudah di tunggu di Indomaret Point yang kebetulan di depannya sudah ada panggung wayang untuk pertunjukan Malam Satu Suro. Kami melewatkannya begitu saja karena Lalamove yang akan mengantar kami ke basecamp Permadi Guci sudah standby di Stasiun. Langsung naik ke bak belakang pick up, kami menelusuri pawai obor Tegal, Slawi, dan Guci. Semilir angin mulai dingin malam itu. Kami secara jumpa fans karena sepanjang perjalanan banyak titik kumpul warga yang menanti pawai obor.

Kami turun tepat di depan basecamp Permadi Guci yang sepi karena hari sudah hampir tengah malam. Kami langsung melipir ke warung terdekat untuk mengisi perut dan bertanya soal homestay yang bisa kami tinggali selama di Guci. Agak masuk ke arah pintu rimba, kami sampai di homestay Bang Jay. Di sana juga ada beberapa rombongan pendaki yang sepertinya mau naik besok pagi juga. Beberapa dari mereka sudah ada yang tidur untuk mempersiapkan energi dan beberapa masih nongkrong di teras. Kami yang sudah kenyang langsung masuk saja dan tanpa basa-basi mengeluarkan sleeping bag untuk beristirahat.

Aku langsung tertidur pulas malam itu. Entah karena lelah atau kekenyangan. Tanpa mendengar apa-apa, aku bangun ketika alarmku berbunyi pukul 05.00 wib. Aku bersiap untuk mandi yang memilah bawaanku yang tak perlu di bawa ke atas. Kami bersiap sarapan, menitipkan barang di homestay, tak lupa kami membungkus 3 nasi untuk makan siang kami nanti. Setelah itu kami langsung mendaftar simaksi dan memesan ojek untuk sampai di pos 1 dengan cepat.

Perjalanan dengan ojek cukup membuat perut mual. Kukira ojek Sumbing via Garung sudah ekstrem ternyata Slamet via Permadi Guci tak kalah ekstrem. Jalur yang setiap hari Kamis selalu di bersihkan dan bambu yang disusun dengan rapi cukup mengurangi licinnya jalur yang berpasir. Tak sampai 30 menit, kami tinggal duduk dan memegang erat pinggang bapak ojek.


Usai berdoa, kami mulai menelusuri jalur. Jalan kami cukup lambat karena jujur saja aku tidak pemanasan sebelumnya. Usai beberapa tanjakan kami berhenti mengatur heart rate dan begitu seterusnya sampai melewati pos 2, pos 3, dan pos 4. Sebenarnya kami tak terlalu lambat juga karena kami bisa mengimbangi porter yang membawa kulkas untuk open trip. Walau beban mereka jauh berbeda tapi spek kaki tetap berbeda kalau dibandingkan aku belum lagi kami juga banyak berhenti karena mengabadikan foto atau video.






Jalur ini benar-benar memanjakan mata dan telinga. Aku banyak terkagum karena vibes yang diciptakan di jalur ini seperti hutan di ghibli. Pohon besar tua yang dahannya dipenuhi oleh lumut, barisan bunga berwarna ungu yang berada di sepanjang kanan-kiri jalur yang sebelumnya penuh dengan bunga berwarna putih dengan ranting kecoklatan. Suara kicauan burung dan gemericik air serasa dalam bioskop dengan dolby atmos, all around you.

Tepat matahari di ubun-ubun, kami sudah sampai di camp area. Aku cukup kaget karena baru kali ini aku naik gunung tapi fasilitas di camp area cukup lengkap, toilet, warung, musholla, dan sumber mata air berlimpah. Kami langsung memilih spot yang cantik sebelum tempat tersebut diakui oleh warga lokal atau rombongan open trip. Tanpa ba-bi-bu, kami mendirikan tenda dan belom sampai jam 1 siang kami sudah gabut. Kami makan siang with the view hari itu. Rendang yang dimasak Ibuk menjadi lauk yang sangat mewah untuk kami. Belum lagi ditambah telor ceplok dan kering tempe yang kami bungkus dari homestay.

Setelah kenyang, aku tidur siang. Ini menjadi perjalanan yang membuatku nyaman. Time management kami hari ini bisa dibilang sangat baik. Terdengar dari luar, gerimis mulai turun. Udara menjadi semakin dingin dan aku mulai menggencangkan kaos kaki. Hampir maghrib, kami membuat minuman hangat untuk menghangatkan badan kami juga. Di sekitar tenda kami sudah ramai dengan tenda lain yang beragam warna dan bentuk. Ramainya suara rombongan yang tadinya se-homestay dengan kami juga dekat dengan tenda kami.

Kami kembali menyusun tas summit kami sebelum tidur. Kami juga menyetel alarm pukul 01.30 WIB. Sebelum alarm berbunyi ternyata camp area sudah ramai orang beraktivitas. Kami segera membuat air hangat dan menyeduh oatmeals untuk pondasi perut. Usai itu aku ke toilet dan menyiapkan diri untuk summit. Perjalanan ini sepertinya akan sangat lama melihat video-video youtube dan reels yang sudah lalu lalang sebelum aku kesini.

Benar saja, sepanjang jalan, full sambat. Jalur dari camp area sampai ke puncak benar-benar menyiksa dan menguji mental. Belum sampai vegetasi terbuka, perutku mengeluarkan semua isinya. Lapar campur mual ditambah udara dingin yang mulai merasuk kulit. Kembali melanjutkan perjalanan, langkahku semakin melambat ketika bertemu dataran tinggi berpasir. Semakin dilanjutkan, semakin kaki ini berteriak.

Langit mulai terang. Semangat baru muncul kembali setelah melihat pucuk Slamet yang merona. Aku mulai memilih pijakan kaki, takut-takut kalau salah memijak bebatuan gugur dan mencelakakan orang lain. Trekking pole mulai dilipat karena tanganku harus erat memeluk webbing. Selangkah demi selangkah kupaksakan. Beberapa orang sudah mulai turun dari ketinggian, pertanda aku harus mempercepat langkah agar lekas sampai puncak. Aroma belerang juga sudah menguar. Aku kembali merangkak melewati awan.


"Sedikit lagi mbak. Tanggung sudah sampai sini." seru seorang ibu dengan jaket berlogo Bank Mandiri.

Ya benar juga, puncak juga sudah terlihat dekat. Memang kemiringan dan medannya masih lumayan berat tapi tanggung dan malas juga kalau harus remidi di lain hari apalagi aku berangkat dengan segala drama yang ada. Aku kembali menata napasku dan melangkah. Aroma belerang sudah semakin pekat dan plang sudah kelihatan di depan mata.


Kami tak terlalu lama di Puncak Salam. Usai foto dan mengambil beberapa footage kawah, kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak Soerono. Jalan sudah tak terlalu berelevasi tapi kiri dan kanan jurang. Beberapa bebatuan juga harus kami lewati untuk sampai di Puncak Soerono. Tapi entah mengapa langkahku tak terlalu berat untuk kesana. Tak sampai 30 menit, kami sampai di Puncak Soerono. Tuhan dan semesta mengijinkanku untuk sampai di Puncak Soerono, Gunung Slamet, di ketinggian 3428 Mpdl, Atap Jawa Tengah.


Sebelum pulang, kami membuka perbekalan buah kaleng di bibir kawah dekat Puncak Salam. Buah di puncak gunung memang tak pernah salah. Kesegarannya langsung naik drastis ketika melewati tenggorokan. Sebelum matahari di ujung kepala, kami segera turun mengingat kami tak mau berjalan menyusuri jalur di waktu maghrib. Perjalanan turun sangat menyiksa tangan. Kami harus berpegang di webbing dan merangkak turun. Sarung tanganku sampai berlubang dibuatnya. Apalagi aku melihat beberapa orang melaluinya dengan tangan kosong.

Tak menyempatkan diri untuk makan siang, kami langsung membereskan tenda dan segala perlengkapannya. Lagi-lagi time management kami kali ini sangat baik. Tiap pos kami hanya beristirahat beberapa menit untuk minum dan bernapas. Kami kembali sampai di pos satu jam 17.00 WIB. Namun, kami mesti mengantre ojek yang ternyata panjang juga. Deretan keril mengular dari pos ojek sama di depan warung pos satu. Sebelum maghrib, kami sudah turun dan kembali sampai di basecamp. Seperti biasa, kami memilih beristirahat dulu sebelum mandi. Indomie rebus dan teh hangat terasa sangat enak sehabis turun gunung.

Perjalanan S3 kami selesai sampai disini. Restu Ibuk, Tuhan, dan Alam Semesta yang membiarkan kami menginjakan kaki di puncak Slamet dengan slamet. Hari ini akan kami ceritakan ke anak cucu kami kelak dan semoga besok mereka bisa melangkah lebih jauh ketimbang kami hari ini.






Senin, 21 Juli 2025 0 comments

2250 Mdpl : seharusnya semua berawal dari sini

Rasanya jauh lebih enteng pas nggak bawa keril sama nggak ndengerin bacot kalian. Hari Sabtu yang tenang ini dimulai dari basecamp rumah Pak Darno. Dari sana, Gunung Ungaran berdiri gagah di belakang, seolah jadi tuan rumah yang siap menerima tamunya.

Kami berangkat tektok, tanpa banyak persiapan ribet. Jalurnya sudah sering kudengar: cocok buat warga Semarang yang baru pertama kali naik gunung, semacam starter pack pendakian. Tapi kali ini aku datang bukan untuk coba-coba, melainkan buat sekadar melarikan diri dari riuhnya kota dan kepalaku sendiri.

Via Perantunan, jalurnya lumayan ramai. Anak-anak kalcer bertebaran dengan outfit paling niat. Sepatu warna-warni, kacamata gelap, botol minum fancy, bahkan ada tripod kecil yang selalu siap dipasang tiap nemu spot kece. Ada yang ngos-ngosan tapi masih sempet update instastory, ada yang sibuk bergaya seolah perjalanan ini cuma pemotretan outdoor. Lucu sih, tapi yaudah. Aku cuma jalan, santai, kadang nyalip, kadang ngalah.

Jalurnya cukup bersahabat. Vegetasi rapat, angin sesekali mampir bikin adem, meski tanjakannya tetap bikin betis kerja keras. Di tengah ramainya jalur, aku merasa entah kenapa justru lebih bebas. Bebas karena langkahku sendiri yang nentuin kapan harus berhenti, kapan harus lanjut. Nggak ada keril di punggung, jadi tubuh lebih ringan. Dan mungkin, hati juga ikut terasa lebih ringan.

Sampai di pos-pos, aku lihat banyak yang berhenti lama hanya untuk berfoto. Aku sih cuma numpang tarik napas sebentar lalu lanjut lagi. Jalannya nggak terlalu ekstrem, tapi cukup buat bikin keringat mengucur deras. Dari beberapa spot, pemandangan hamparan kota dan sawah terbentang. Langitnya cerah, biru sempurna.













Menuju puncak, jalur makin terbuka. Angin lebih kencang, rumput ilalang tinggi bergoyang seirama. Di titik itu, aku diam sebentar, memandang jauh. Kadang, naik gunung bukan soal mencapai puncak, tapi tentang jeda. Tentang bagaimana diam sejenak bisa bikin hati nggak sesak.

Akhirnya sampai puncak Ungaran. Ramai, seperti yang kuduga. Anak-anak kalcer sibuk cari angle terbaik, beberapa buka bekal, ada juga yang teriak-teriak biar eksis di video. Aku cuma duduk di sudut, meneguk sisa air minum, dan membiarkan angin puncak menerpa wajah. Dari sana, gunung lain di kejauhan terlihat gagah, seolah saling menyapa.

Turun jalur terasa lebih santai. Betisku sudah mulai protes, tapi entah kenapa nggak terasa seberat biasanya. Jalur menurun dipenuhi tawa-tawa asing, dan aku ikut terseret di dalamnya meski dalam diam.

Sampai kembali ke basecamp, rasa lega bercampur lelah. Tektok selesai. Nggak ada pencapaian besar, nggak ada drama luar biasa. Tapi perjalanan singkat ini berhasil bikin tubuhku ringan dan pikiranku lebih lapang. Ungaran memang gunung starter bagi banyak orang, tapi buatku hari ini, dia adalah tempat singgah. Tempat yang diam-diam memberi ruang untuk bernapas lebih dalam.

 
;